- Advertisement -

Gubsu dan Bupati Beda Pendapat Soal Jalan Nasional

Dairinews-Silumboyah
Gubernur Sumatera Utara, Ir Tengku Erry Nuradi diwawancarai usai puncak acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke XIII di Desa Silumboyah Kecamatan Siempat Nempu Hulu Kabupaten Dairi, Rabu (14/9/2016) mengatakan, dirinya sudah beberapa kali melintas dan berkunjung ke Kabupaten Dairi. Seputar infrastruktur ruas jalan nasional, dia menerangkan, sudah lebih baik.

Waktu menjabat Wakil Gubernur, jalur Dairi-Karo masih keriting. Sekarang lumayan mulus meskipun adan beberapa titik ancaman.

“Harusnya masyarakat bersyukur, sudah ada perbaikan Nah, itu yang belum pernah disampaikan masyarakat. Selalu saja mengeluh soal jalan rusak” kata Gubsu.

Tentang ruas jalan propinsi, kata dia, 80 persen mulus. Perbaikan tetap dilakukan 1 atau 2 kilometer per tahun. Jangan selalu berfikir negatiflah, kata dia didampingi Bupati Kabupaten Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro.

Pada hari itu, petinggi Sumut ini bersama rombongan melintasi tikungan mengerikan di Pintu Angin Penatapen Desa Pangambatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo. Seterusnya, mobil mewah BK 1 bagai ‘berdangdut irama geram’ melintasi lobang tiada berkesudahan mulai dari kilometer 2 jalan Tigalingga hingga Silumboyah. Gubernur tertunduk kala turun dari mobil saat kakinya memijak jalan berkontruksi batu padas. Di lokasi, itu, aspal hotmix hilang berganti gelombang lobang. Istrinya juga terlihat harus memilih jalan akan datar.

Lewat acara pelantikan pengurus DPD partai Golkar Dairi di Stadion Panji dihadiri Ketua Umum Setya Novanto Minggu (4/9/2016), Sitohang mengeluh soal mutu jalan nasional. Menurutnya ruas Dairi-Aceh Tenggara rusak parah. Sedang akses Dairi-Karo memprihatinkan. Dia mengusul, segera dilakukan pelebaran.

“Kalau jalan kabupaten seratus persen mulus. Tinggal jalan nasional dan propinsi” kata Sitohang di hadapan para pegawai negeri dan warga.

Terpisah, Anggota DPRD Sumut, Leonard Surungan Samosir mengatakan, masyarakat belum patut mengucap terima kasih kepada Gubernur atas infrastruktur buruk seperti sekarang. Realitasnya, tak layak. Malah, tikungan tajam tanpa penyangga menelan banyak korban jiwa. Tentang jalan di Lae Pondom, tuntutannya bukan sekedar mulus. Harus diperlebar mengingat jalur itu sibuk oleh lalulintas kendaraan dari Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Aceh, Medan, Karo, Siantar, Riau dan Sumatera Barat. Pihaknya sudah menemui Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR untuk pembenahan dan diharap diwujudkan tahun 2017.

Leonard juga tidak sependapat bila dikatakan jalan propinsi mulus 80 persen. Mana ada? Di Dairi, hancurnya bukan main. Tengok saja lintasan Sumbul-Tigabaru-Tigalingga dan Sumbul-Pangirinan Kecamatan Parbuluan. Nangis orang kalau berlalu. Ironisnya, anggaran pemeliharaan tahun 2016 tak dimanfaatkan. Khusus untuk Dairi, sentuhan pembangunan masih di bawah 40 persen. Penanganan maksimal 2 kilometer per tahun. Kapan tuntasnya?

1 Komen
  1. orlando Silaban berkata

    Dairi kan punya politik hancur- hancuran sama DPRD nya yg cuma bisanya makan gaji buta dan PNS yg pintar berpolitik hahahaha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.