- Advertisement -

Iyah… Gadis SMK Diduga Dicabuli 3 Pria

Dairinews-Sidikalang

Seorang pelajar SMK menimba ilmu di bilangan Jalan Gereja Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara menjadi korban  asusila. Sebut saja namanya  Rosma (18) asal Dusun Huta Silaban Desa Pandiangan Kecamatan Lae Parira.  Sehari-hari, gadis ini  tinggal di Jalan Maholi.  Diduga, dia dicabuli 3 pria di kamar kos-kosan di Gang Bancin Kelurahan  Batang Beruh Sidikalang, Minggu (18/9/2016) dini hari. Sesungguhnya,  korban tidak kenal siapa pelaku.

 

 

Kapolres Dairi melalui Kasubbag Humas Iptu Manusun Hutasoit saat menerima kunjungan anggota DPRD Rukiatno Nainggolan dan  Lisbet  Tobing, Selasa (20/9)/2016)  mengatakan, polisi intens  melakukan penyelidikan. Belum ditetapkan siapa tersangka namun pelaku tersebut  sudah terbaca.

 

 

Hutasoit memaparkan, kasus itu bermula dari pengerebekan  komplotan  pemuda terhadap  Rosma dan pacarnya di sebuah penginapan di Kecamatan Berampu, Minggu (18/9/2016) sekira pukul 01.00 Wib. Rombongan pria tersebut  menggedor kamar lalu menuduh  sepasang insan diduga melakukan perbuatan menyimpang. Laki-laki itu mengaku dari Polda.

 

 

“Mana KTP” kata seorang diantaranya kepada pasangan dimabuk asmara. Keduanyapun tak memiliki kartu identitas.  Teman pria di tarik ke luar kamar oleh seseorang dan tinggallah 3 lagi dengan Rosma di kamar itu. Rosma kemudian diajak pindah ke kamar lain. Di bilik itu, perempuan anak petani itu digerayangi. Organ dada dipegang-pegang.

 

 

Tidak sampai di situ,  Rosma dibawa naik sepeda motor bonceng 4 berdalih ke  Polres. Di salah satu lokasi, seorang diantaranya turun di Huta Rakyat. Dan, Rosmapun dipindahkan ke mobil pribadi warna silver di Jalan Nusantara. Dari situ,  Rosma dilarikan tanpa perlawanan ke kamar kos di Gang Bancin.

 

 

Pengakuan korban, kata Hutasoit, tidak ada pemerkosaan. Tetapi, dia dicabuli dengan cara memegang-megang bagian tertentu. Payudara diremas-remas. Bajunya juga dinaikkan. Telepon genggam Rosma juga disita. Karenanya, pelajar ini menangis lalu dijinkan pulang. Pagi itu,  Rosma kembali bertemu dengan kekasihnya dan lanjut pada pembuatan  pengaduan ke Polres.  Teman lelaki itulah, sebut saja  bernama Playboy  menunjukkan ciri-ciri  korban diikuti penelusuran  lokasi eksekusi Rosma.

 

 

Hutasoit membenarkan, pagi itu, polisi langsung memeriksa  komplotan tadi. Rosma menerangkan, dirinya bukan dikerjai 4 orang, tetapi  3  orang.  Sehubungan itu, penyidik akan memanggil pemilik penginapan dan kamar kos.  Komplotan bisa mulus ke kamar lantaran pemilik kost adalah tema akrabnya. Pun demikian, kata Hutasoit, pelaku tidak mengakui perbuatannya.

 

 

“Maling ayam sajapun  mana pernah ngaku. Na boha do lae on…datung diakui ulaon na dah. Alai, boi do diusut songon dia  kronologis na” kata Hutasoit.

 

Dia pun menunjukkan foto 4 pria. Seorang diantaranya mengenakan jaket warna biru mirip parpol. Diutarakan, salah seorang pria tadi adalah oknum wartawan. Tidak tertutup kemungkinan, pelaku sudah sering berbuat begitu, tetapi baru kali ini dilapor korban.

 

 

“Mobil na i pe dohot sepeda motor, sitaon do annon. Bahenon nama surat” kata Hutasoit. Molo sian ahu, ingkon lanjut do kasus on.

 

 

Anggota dewan berharap, kasus ditangani secara proporsional. Diusut terang benderang. Rukiatno dan Lisbet mengusul, jika cukup bukti, tersangka segera ditahan. Orang tua korban  telah meminta dukungan kepada legislator.

 

 

“Molo mamereng pangalaho ni si boru on, sasintong na, jolma naso umboto lungun do. Among na pe jolma na susa de. Holan na tu balian do ganup sogot. Alai las lao muse  do hotel dohot hamlet na mar heppi-heppi sampe tonga borngin. Alai, ula-ula no si baoadi na mamboan nasida songon penjahat, tongdo ingkon diuhum. Pailahon. Keterlaluan!” kata Rukiatno. (D01)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.