- Advertisement -

Berontak Dalam Senyuman

Dairinews-Sidikalang

Seorang pegawai berjalan ke salah satu  ruangan di Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Dairi Sumatera Utara Jalan Sisingamangaraja Sidikalang. Biar lebih  gampang dicerna, realitas ini terjadi di  Kantor Bupati, Jumat (23/9/2016) siang. Perempuan berparas cantik membawa  setumpuk ulos Batak berwarna merah. Pada saat yang sama, dia juga  memegang sejumlah  amplop undangan berwarna kuning muda.

 

Undangan tersebut adalah puncak kegiatan tahun keluarga di satu gereja. Tanda tangan seorang pendeta dan anggota DPRD yang tak lain anak pejabat,  discan  lalu distempel.

 

“Apa ini, dek?” tanya seorang pejabat bereselon kepada perempuan tadi. Tak lama kemudian, ditengoknya  teks yang tertulis dalam  kertas karton.

 

“Bah, kemarin kan sudah. Kok ada lagi?” kata seorang diantaranya.  Mereka pun  mencermati seraya mengingat bahwa acara serupa sudah diselenggarakan beberapa waktu lalu. Ooooo… ini kan puncak acara. Yang kemarin mungkin masih belum puncak, sahut  tamu non pegawai.

 

Pegawai  mengeluh. Setiap ada acara yang ketuanya ini,  kayaknya  berujung  pengeluaran.  Bahan, dia juga menjadi ketua di luar sekta. Biasanya, kalau ada pesta, pasahathon (penyematan-red) ulos dilakukan  pada saat acara. Ini, ulosnya sampai bersama  undangan.

 

Lebih parah yang sekarang. Inilah, harga ulosnya minimal dua ratus ribu. Jadi, di atasnya itulah harus dikasih. Siapa berani  menolak. Merekapun memperbincangkan  keberadaan salib  terletak di atas tanda tangan. Bila ditanya ke psikolog, karakter orangnya bisa dibaca.

 

Ditanya wartawan berapa kali lagi akan diperlakukan begitu? Pejabat menjawab, bukan berapa kali lagi, berapa puluh kali lagi? Coba tengok. Kemarin ada acara di salah satu gereja.  Dia juga ketuanya. Berapa ke situ? Sebenarnya, orang bukan takut  sama yang punya tanda tangan. Yang  diwaspadai adalah orang di belakangnya.

 

Pejabat pun mengungkap, bahwa dia pernah menegur panitia acara  pada agenda lain beberapa waktu lalu. Ketika itu, posisi nya belum seperti sekarang. Kala itu, panitia datang  menyuguhkan undangan dilengkapi struk isian uang partisipasi.

 

“Langsung kubilang. Jangan kau bikin pesta kalau tak ada uangnya. Sekarang, aku kena. Begitulah sakitnya. Gergaji  hanya tajam ke bawah. Aut sura naung kuat ekonomi,  pittor paulakon do SK on. Alai boha ma bahenin. Pinasabar-sabar ma” kata pegawai.

 

Naso tardok do doba. Molo di bagasan, nungnga  malala.  Lalap songon oni, lalap songon on,   kata pegawai. Ditambahkan, sesungguhnya, hati berontak tetapi tak bisa melawan. Bagaimanapun kondisinya, terpaksa senyum.

 

Wartawanpun mengajukan usul, bagaimana kalau ditanyakan saja sama bos berapa  banyak pesta yang harus ditutup sampai jelang hari H, lalu berapa beban biaya. Dengan begitu, bisa dihitung masih sanggup memikul  atau bagaimana? Boha molo sitombol ma, tanya tamu.

 

“Sossok juga bah. Songon na laho mangadati tabahen”, kata tuan rumah.

 

Ada lagi yang lucu, ujar pegawai dalam obrolan ringan.       Sudahpun misalnya sendirian di ruangan, pegawai  bisa tunduk-tunduk saat menjawab telepon bos. Ya, pak..ya,  pak sembari memanggut-manggut kepala , kata seseorang seolah bos lagi di hadapannya.

 

Patut diduga  perdagangan pengaruh  atau istilah keren ‘trading influence’  ayah notabene pejabat  elit  akan dipakai oknum tertentu  menyongsong pilkada Bupati 2018.  (D01)

 

 

1 Komen
  1. Kudadiri berkata

    Pas kali. Senyumi saja

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.