- Advertisement -

Pesta Budaya, Toko Tetap Buka

Dairinews-Sidikalang

Bupati Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro pada pembukaan Pesta Njuah-Juah 2016 di Gedung Nasional Djauli Manik Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Senin (26/9/2016) mengatakan, budaya merupakan identitas dan kekayaan yang harus terus terjaga dan dilestarikan untuk diwariskan kepada anak cucu. Di tengah gempuran budaya asing sebagai dampak globalisasi dan kemajuan teknologi informasi komunikasi, generasi muda harus dibekali dan dibentengi dengan budaya lokal.

 

Budaya juga  harus  terus dikelola dan dikembangkan hingga mampu meningkatkan perekonomian. Budaya perlu dikreasikan namun nilai luhur yang dikandungnya tetap terpelihara.

 

Bupati menitip pesan kepada Pemerintah Pusat melalui Kabid Promosi Wisata Buatan Kementerian Parawisata,   Hendri Karnoza, agar pengembangan wisata tidak mengabaikan kearifan dan potensi lokal, khususnya  pengelolaan kawasan Danau Toba.

 

Tokoh adat di kawasan Danau Toba diharapkan direkrut mengisi job pada Badan Otorita Danau Toba yang akan dibentuk.

 

“Tanpa keterlibatan tokoh adat, dan tokoh budaya setempat, program  Badan otorita akan gagal”, ujar top manajemen itu.

 

Gubernur melalui Kadis Parawisata Sumut,  Elisa Marbun menyebut, Pesta Budaya Njuah-Njuah diharap menghasilkan multi dampak terutama mendongkrak ekonomi kreatif dan pariwisata. Bisnis pariwisata berbasis budaya perlu dikemas demi  mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

 

Elisa menyebut, dari 33 kabupaten/kota yang menggelar even tahunan berbasis budaya, menurutnya kemasan Pesta Budaya Njuah-Njuah merupakan pagelaran terbaik.  Tahun 2016 ini, pemerintah  Sumut  menyediakan dukungan anggaran Rp100 juta buat agenda tersebut. Ditambahkan, Gubsu Tengku Erry Nuradi hadir pada penutupan, Jumat (30/9/2016).

Seremoni pembukaan ditandai pemukulan gong oleh Bupati  disaksikan sejumlah pejabat dan pemuka. Sebelumnya, sukut ni talun marga Ujung memimpin sodip (doa dalam budaya  Pakpak-red) bersama  keturunan  Sipitu Marga.

 

Pun tertengok meriah, warga di bilangan Simpang Empat sebagai lokasi pelaksanaan, terkesan lebih sibuk mengurus bisnis masing-masing. Toko dan restoran tetap saja dibuka. Bahkan, swalayan milik pengusaha luar kota berjarak 5 meter dari Gedung Nasional  juga buka pintu melayani pembeli.

 

Kondisi ini berbeda dibanding warga saat melaksanakan acara besar. Di wilayah ini, tetangga  biasanya rela  tutup usaha demi menghargai  tuan rumah sebuah acara. Bengkel, rumah makan, pertokoan lazimnya ditutup saat kegiatan adat istiadat.

 

“Macam mana ini yah?  Kok tetap buka toko dan restoran ini di sekitar acara? Padahal, kalau penduduk menggelar acara adat, tetangga rela menutup bahkan membantu tuan rumah. Swalayan aja buka melayani pembeli ” kata seorang warga.

 

Kepala Dinas Perhubungan, Leonardus Sihotang mengatakan, jumlah peserta kirab tercatat 1600 orang. Animo masyarakat tumbuh.  Beberapa anggota dewan, tampak datang ke lokasi. Legislator  berdarah asli Pakpak, ada melanggeng tanpa mengenakan pakaian adat.  (D01)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.