- Advertisement -

Pupuk Bersubsidi Jenis Phonska dan SP 36 “Dang Tarluluan” di Kecamatan Parbuluan dan Sitinjo

Dairinews-Parbuluan

Masyarakat di Kecamatan Parbuluan dan Sitinjo Kabupaten Dairi mengalami kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi jenis Phonska dan SP 36. Hal itu disampaikan Risma boru Capah (43) Warga Desa Bangun, Kecamatan Parbuluan dan Rinto Kudadiri (51), Selasa (8/11).

Kedua jenis pupuk bersubsidi itu sudah sejak satu bulan belakangan sulit didapatkan. Pada hal sekarang, petani sedang pada musim memupuk. Kekosongan tersebut terjadi di Desa Bangun, Bangun 1, dan Desa Lae Hole Kecamatan Parbuluan, Desa Sitinjo 1 Kecamatan Sitinjo.

Para petani sedang hendak melakukan pemupukan ke-dua kali pada tanaman padi, setelah selesai menyiangi rumput (marbabo), sehingga pupuk bersubsidi jenis phonska dan SP 36 sangat dibutuhkan para petani. Selain untuk padi, pupuk tersebut juga sangat dibutuhkan untuk tanaman lainnya.

“Saonari dang tarluluan amang pupuk ponska dohot SP 36, nunga piga didalani hami kios panjual pupuk bersubsidi di huta on dang dapot,” kata Risma

Supaya tidak tarlambat memupuk, petani harus membeli pupuk phonska non subsidi, harganya lebih mahal. Kendati demikian, tetap harus dibeli. Sejauh ini, pupuk phonska non subsidi dijual di kios dengan harga Rp 140 ribu per zak. “Yang pasti pupuk non subsidi lebih mahal dari bersubsidi, bahkan kualitas dari non subsidi tersebut juga diragukan petani, karena belum pernah digunakan selama ini,” ucap mereka.

Salah satu pemilik kios pupuk bersubsidi di Desa Lae Hole yang tidak bersedia dituliskan namanya, mengatakan kekosongan pupuk phonska dan SP36 bersubsidi sudah lebih satu bulan terakhir. Tidak tahu apa penyebabnya. Menurutnya, rata-rata kios pengecer pupuk bersubsidi di kecamatan itu tidak memiliki stok phonska bersubsidi.

Pihaknya harus menyediakan pupuk non subsidi untuk mengatisipasi petani mengalami keterlambatan memupuk padi. Bila terlambat akan berakibat fatal. “Dalam beberapa bulan terakhir sudah  ratusan zak ponska non subsidi dipesan, untuk menanggulangi kekosongan pupuk bersubsidi, walaupun harganya lebih mahal,” sebutnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Dairi Rahmatsyah Munthe saat dikonfirmasi mengatakan, sejauh ini, laporan dari distributor terkait pupuk bersubsidi lancar setiap bulan. Karena laporan distributor ke dinas lancar, dengan bukti daftar tebusan kios ke distributor. Bukti tebusan itu yang dilampirkan ke dinas. Tetapi meski pun demikian, pihaknya akan langsung turun ke lapangan untuk melihat situasi kekosongan pupuk bersubsidi itu.

Setelah menelusuri, Rahmat mengakui adanya kekosongan pupuk phonska bersubsidi di Kecamatan Parbuluan dan Sitinjo. Menurutnya, kelangkaan pupuk Phonska di kecamatan itu disebabkan adanya beberapa kios pengecer tidak menebus pupuk dari distributor. Seperti UD Dian Lestari di Sitinjo tidak menebus pupuk Phonska dari distributor untuk bulan September dan Oktober, UD Ramos bulan Oktober hanya menebus pupuk Phonska 5 ton.

“Akibat beberapa kios tidak menebus pupuk dari distributor, sehingga pupuk phonska bersubsidi di dua kecamatan itu mengalami kekosongan,” sebutnya. Pihaknya akan terus mengawasi pendistribusian pupuk terkhusus di dua kecamatan itu.(D04)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.