- Advertisement -

Naek Kaloko: Jaksa Diduga Tidak Profesional

Dairinews-Sidikalang

Naek Kaloko mantan terdakwa perkara proyek  pengadaan kapal ‘fiktif’ di Dinas Kebudayaan Perhubungan dan Parawisata Kabupaten Dairi Sumatera Utara mendesak Kepala Kejaksaan Negeri Dairi menangkap Nora Butar-Butar tersangka kasus proyek dimaksud.

 

“Harusnya, siapa yang mencicipi uang hasil korupsi, dia yang ditahan. Ini, malah dilepas. Uang itukan diambil si Nora semua sementara barangnya tak diserahkan sesuai kontrak” kata Kaloko di ‘Onan’ Sidikalang, Sabtu (12/11/2016).

 

Kaloko mengutarakan, Kepala Dinas Parawisata kala itu dijabat Pardamean Silalahi membuat pengaduan kepada  Kajari saat dijabat Saut Simanjuntak. Memang sempat terdegar, Nora diproses, tetapi dilepas kendati sudah status tersangka.

 

Aneh kasus en. Kami oda lot membuat kepeng negara serta bikin laporen tapi malah  ditahan. En jelas oda adil, tandas Kaloko.

 

Kaloko menyebut, beruntung, Tuhan membuka hati majelis hakim Didik Eshadoko, Rosmita dan Deni Iskandar yang memutuskan mereka bebas murni dari tuntutan 5 tahun penjara di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (10/11/2016).  Tak ada fakta persidangan menyebut dia dan  rekan mengambil negara.  Harusnya, jaksa segera tangkap Nora biar adil!

 

Diterangkan, ketiganya ditahan di jaksa sejak  14 Juli-10 Nopember 2016. Persidangan digelar sekitar 20 kali. Kala itu, jaksa penuntut umum gonta-ganti. Beberapa kali, hakim mengeluarkan teguran kepada JPU. Bahkan, kata Kaloko, Pardamean Silalahi menunjukkan temperamen asli  ‘anak Medan’, berani menantang jaksa.

 

Pardamean, kata Kaloko, mengkritisi komitmen jaksa untuk menangkap Nora. Pardamean mengaku tinggal di gang di Jakarta tetapi mudah dideteksi jaksa. Masya Nora seorang perempuan tak boleh dilacak?  Hakim, kata Kaloko, juga mempertanyakan sikap  JPU yang menjadikan pelapor sebagai tersangka sedang  kontraktor tak ditangkap.

 

Kaloko, mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini menyebut, masih fikir-fikir mengajukan tuntutan rehabilitasi dan ganti rugi kepada jaksa. Dia juga menghargai keinginan JPU untuk banding. Diutarakan, sesungguhnya, kerugian moral dan material yang diderita cukup besar. Anak dan istri juga menderita.

 

Kasus itu dipaksakan maju agar seolah-olah punya kinerja. Buktinya, bebas murni.  Jaksa diduga tidak profesional, mengorbankan pelapor jadi tersangka.

 

Sebagaimana diketahui, proyek pengadaan kapal untuk mendukung parawisata Danau Toba di Desa Silalahi-Paropo Kecamatan Silahisabungan menelan biaya  hampir Rp400 juta tahun 2008. Pada pelaksanaan, Nora Butar-Butar pernah menunjukkan kapal yang dipersiapkan kepada pemerintah daerah. Sehubungan itu, Pardamean dan tim melakukan peninjauan ke Ajibata. Kala itu, panitia memberi masukan.

 

Anehnya, menjelang serah terima barang, alat transportasi diganti rekanan atau bukan lagi produk semula. Padahal, Bupati DR MP Tumanggor sudah menandatangani undangan peresmian penggunaan fasilitas dimaksud. Saut Simanjuntak juga mendapat sehelai undangan itu.

 

Lantaran  tak sesuai, Pardamean  menolak kapal. Solusinya,  Nora dituntut mengembalikan  uang proyek. Kesepakatanpun dituangkan dalam surat perjanjian.  Tunggu-punya tunggu, Nora tak merealisasikan niat baik. Pardamean pun mengadu kepada Saut.

 

Nora sempat diperiksa. Entah alasan apa, Nora kabarnya dibawa ke Medan. Lalu, pengusutan terkait perempuan itupun seakan redup. Selanjutnya, Pardamean, Naek Kaloko selaku pemimpin proyek dan Naek Capah ditetapkan sebagai tersangka diikuti  ‘kerangkeng’. (D01)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.