- Advertisement -

Ita Sianturi Menanti Sedekah di atas Angkong

Dairinews.com-Sidikalang

Ita boru Sianturi (47), hanya bisa bertahan hidup lewat belas kasihan sesama. Penyandang disabilitas ini tak berdaya untuk bertani atau kegiatan berat lainnya.  Perempuan beralamat di Mekar Sari Pinang Sori Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara ini,  terpaksa duduk seharian di atas kereta angkong atau sorong.

Ita digotong di bawah terik matahari mengelilingi  lintasan permukiman dan perkantoran di Sidikalang Kabupaten Dairi,  Jumat (24/02/2017). Mereka sempat tertengok di jalan Sisingamangaraja dan Ahmad Yani.   Kepalanya dibalut plastik keresek warna hijau untuk meminimalisasi sengatan panas. Tubuhnya menjadi  muatan alat kerja disokong  Amisakhi Lase (45). Kulit Ita tampak coklat pekat pertanda sehari-hari dia memang lelah  terpanggang surya.

“Molo adong do modal hu, dang taonon hu songon on mangido-ido. Dang boi ahu jonjong dohot mardalan. Holan hundul di beko on di au siap ari” kata Ita. Di Sidikalang, dia diberi tumpangan tanpa bayar di bilangan gereja Nias di Jalan Pahlawan Panji Sibura-bura. Diungkapkan, kendati sengsara serta tidak normal, dirinya tak pernah mendapat bantuan pemerintah. Berobat ke rumah sakit saja tetap bayar.

Keluhannya sudah pernah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli tengah, namun tak digubris.  Rencana memperoleh donasi, pernah hampir terealisasi, namun Bupati terdahulu, Bonaran Situmeang keburu ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia memang menerima beras miskin sebanyak 2,5 tumba. Harganya Rp30 ribu. Di kampungnya, beras 1 karung dibagi 3  rumah tangga.

“Aku tidak dapat apa-apa.Dang huboto tuise mangalu-alu” kata Ita.  Dia terpaksa banting setir demi sesuap nasi. Sebab, sang suami Romulus Simamora juga menderita buta. Sehubungan itu, pasutri ini hanya bisa menjadi pengemis. Aceh, Jambi dan kota lainnya sudah dikelilingi demi perut. Andaikan punya modal, dia ingin jualan marrengge-rengge.

Untuk menarik simpati warga, dia pun menyanyikan lagu gerejani. Dia pun mengaktifkan tape recorder berukuran 20 x 10 centimeter dengan suara maksimal. Yang dapat, hanya lepas-lepas makan.

Iba melihat keprihatinan dimaksud, par lapo boru Tobing di depan kantor Kejari Sidikalang pun menawarkannya makan siang.

Sementara itu,  Amisakhi Lase mengatakan,  rela membawa  sorong kelilingi kota sebagai upaya membantu sepupu. Hubungan mereka, bunda kakak beradik. Bermandikan keringat, Amisaki pun menggiring sorong sembari berhenti ketika bertemu pejalan kaki. Mereka berharap, dermawan membuka hati. (D01)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.