- Advertisement -

Bedah Rumah 2016, Belanja Bahan Bangunan tanpa Harga

Dairinews.com-Sidikalang

Program bedah rumah dibiayai  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016 di Desa Bangun Kecamatan Parbuluan Dairi diduga bermasalah. Beberapa kediaman  rumah tidak selesai dikerjakan.

Hal itu disampaikan warga Dusun III Desa Bangun– yang tidak bersedia dituliskan namanya, Jumat (17/03/2017). Sumber  mengaku, rehabilitasi, tidak selesai akibat kekurangan biaya. Bantuan dari pemerintah yang disebutkan sebesar Rp 15 juta, untuk biaya membangun tidak cukup.

“Kami harus mengerluarkan biaya besar, untuk menambah bantuan itu. Bangunan gantung, belum selesai,” ucapnya.

Uang Rp15 juta, tidak diberikan kepada penerima menfaat secara tunai. Tetapi diberikan berupa bahan bangunan. Sehingga penerima manfaat mengambil bahan bangunan dari panglong yang sudah ditentukan. Material yang diambil tidak mencantumkan harga satuan pada faktur.

“Tidak ada harga satuan atau total pembelian di bon faktur. Cuman menerakan  jumlah bahan,” ucap sumber.

Kami tidak tahu berapa jumlah harga bahan yang diambil dari panglong. Dari bantuan tersebut, material yang diambil dari panglong yakni batu bata sekitar 7 ribu buah, semen 40 zak, yang 40 kg 20 zak dan yang 50 kg 20 zak, pasir 4 kubik, batu padas 4 kubik.

Sumber membenarkan, punya rasa penasaran. Tetapi,  itu hanya dalam hati. Dari bantuan Rp 15 juta itu, kami tidak mengetahui berapa jumlah harga bahan keseluruhan. Ketika mengambil bahan bangunan lainnya, pihak panglong mengatakan uang dari bantuan itu sudah habis. Jadi bila mengambil bahan, harus bayar.

Terkait dugaan permainan antara pihak panglong dengan Dinas terkait, ia tidak berani terlalu dalam berkomentar. Tetapi rasa curiga itu, ada tetapi kami tidak bisa berbuat banyak.

Sementara itu, beberapa warga Dusun I juga mengaku tidak mengetahui berapa jumlah harga bahan dari bantuan. Memang bila dihitung-hitung dari harga normal bahan di panglong jauh dari harapan. Menurutnya, berapa pun jumlah dana dari bantuan yang diberikan itu, pihaknya tetap bersyukur. Meski pun ada hal-hal yang tidak wajar dalam pelaksanaannya.

Rasa curiga, juga diutarakan penduduk Sumbul. Keluarga memperoleh bahan  berikut  uraian tanpa dilengkapi biaya. Ironisnya, material  tidak dilangsir dalam tempo relatif lama berdekatan.  Tak diantar sekaligus.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman,  Maringan Bancin mengatakan, bantuan RTLH yang bersumber APBN di Desa Bangun sebanyak 31 unit. Bantuan tersebut merupakan hasil giringan anggota DPR RI. Pelaksanaan RTHL atau bedah rumah langsung diawasi tenaga fasilitator lapangan (TFL) dari Kementerian.

Bantuan bedah rumah merupakan biaya stimulan, untuk mendorong masyarakat, dalam merehabilitasi rumah yang tidak layak huni. Terkait harga bahan, kata Maringan, sudah sesuai dengan harga satuan pokok kegiatan (HSPK) kabupaten.

Memang pada Desember lalu, harga bahan tidak menentu, akibat kelangkaan beberapa jenis material bangunan. Tetapi yang jelas harga bahan sudah sesuai dengan HSPK. Bantuan itu masuk ke rekening penerima manfaat. Tetapi pengambilan bahan harus dari panglong, dan panglong masyarakat yang menghunjuk. Kemudian, bantuan tersebut juga dikenakan pajak sebesar 12 persen dari Rp 15 juta.

Maringan merinci, bantuan bedah rumah yang bersumber dari APBN selain di Bangun. Juga ada di Kecamatan Sumbul dan Pegagan Hilir sebanyak 341 unit, dengan besaran perkiraan yg diberikan kepada masyarakat antara Rp 7,5-15 jt per unit, berupa bahan bangunan.

Sedangkan dari APBD Dairi sebanyak 100 unit dengan biaya Rp 8,5 juta per unit, berada di Parbuluan, Desa Pasi, Kecamatan Silima pungga-pungga dan Siempat Nempu Hilir. Penunjukan panglong penyedia bahan bangunan, dilakukan secara lelang.

Pantauan wartawan, sejumlah masyarakat penerima manfaat dinilai tertutup, masyarakat enggan mejelaskan secara rinci bantuan yang didapat dari pemerintah itu.(D01)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.