- Advertisement -

Wawasan Kebangsaan Bakal Calon Bupati Diuji

Dairinews.com-Jakarta

Dua bakal calon (balon)  Bupati Kabupaten Dairi peserta pikada 2018 mengikuti tes wawasan kebangsaan secara informal di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jalan Gatot Subroto  Jakarta, Minggu (30/04/2017).  Keduanya adalah Antonius Siahaan Kepala Dinas Perhubungan Sumut yang juga mantan Pj Walikota Siantar dan Eddy Kelleng Ate penggiat profesional.

Anggota DPR RI daerah pemilihan Sumut 3, Junimart Girsang  mengundang keduanya naik ke panggung menyusul kehadiran mengikuti Pesta Bona Taon perantau asal Dairi.

- Advertisement -

Di sini ada 2 bakal calon, Kita undang ke depan, kata Junimart.  Legislator  PDIP ini menyebut, sebagai bakal calon, seyogianya paham tentang ketatanegaraan dan kebangsaan. Eddy berdiri di sebelah kanan Junimart dan Antonius di kiri.

Saya ajukan pertanyaan untuk dijawab. Coba sebutkan 4 pilar bangsa, kata Junimart putra penduduk Jalan Sisingamangaraja seberang Gedung Nasional Sidikalang itu.  Eddy tampak kurang  menguasai lapangan. Seterusnya, Junimart memancing, satu Pancasila. Ditanya pilar kedua, Eddy tak mampu menjawab. Pilar ketiga ditujukan kepada Antonius. Dengan gamblang, putra kelahiran Jalan Ahmad Yani  seberang gereja HKBP Perkembang ini menjawab, Undang-Undang Dasar 1945.  Junimart pun tak melanjutkan pilar ke empat. Wajar jugalah Antonius lebih paham. Dia birokrat tulen.

Pada sesi berikut, Junimart meminta Eddy menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Bisa ngak? Tanya adik pengacara kondang Juniver Girsang.

“Harus pakai teks” respons Eddy dihadapan ratusan  hadirin.

“Kalau nyanyi Bangun Pemuda Pemudi, bisa ngak?” tanya Junimart lagi. Eddy kembali menjawab harus pakai teks. Lagu Indonesia Raya bisa, sambung   Eddy. Masya sediki-sedikit pakai teks, ujar Junimart.

Biar  mulus, Junimart menawarkan keduanya menjadi pasangan bakal calon peserta pilkada. Setuju ngak? Antonius menjadi calon Bupati dan Eddy menjadi Wakil. Atau, bisa juga dibalik. Momen itu mendapat apllaus dari hadirin.

Junimart meminta keduanya memperkenalkan diri masing-masing  selama 2 menit. Antonius didaulat pertama. Birokrat ini menyebut, berniat tulus membangun kampung halaman. Baginya,  menampung aspirasi masyarakat adalah solusi utama memajukan daerah. Mana permintaan rakyat,  ditampung kemudian diseleksi. Intinya, mengacu skala prioritas.

Antonius menandaskan, tak mau menjadi Wakil Bupati. Dia sudah 3 kali dipercaya  pada posisi pelaksana tugas kepala daerah. Jadi kurang etis kalau jadi orang kedua. Menurut Junimart, Antonius memakai waktu lebih 4 detik dari yang ditentukan.

Eddy menerangkan, dirinya diminta oleh tokoh masyarakat dan Sukut ni Talun menjadi Bupati. Dia memang tak pernah duduk di birokrasi. Dia berpengalaman sebagai pengusaha. Perusahaannya berdiri di Amerika dan Hongkong. Dia memiliki anak kuliah di Amerika.

“Pesan orang tua, kalau sudah berhasil pulanglah ke  kampung. Orang tuanya menilai sudah sukses” kata  Eddy. Kala dirinya memperkenalkan  jenjang pendidikan, sebagai alumni ITP, Unpad dan Bandung, Junimart menyambung, sama… saya juga diBandung.

Junimart mempertanyakan penguasaan bahada daerah. Bisa Bahasa Toba, tanya Junimart. Eddy menyebut, sedang belajar. Bisa Bahasa Pakpak, Eddy memberi jawaban serupa, mulai belajar.

Eddy mengakhiri perkenalan dengan kata ‘horas horas horas’ kemudian disambung Junimart dengan ucapan Njuah-Njuah.  Keduanya berpelukan dan jabat tangan sebelum meninggalkan panggung.

Mana wartawan? Mana wartawan? Saya sengaja  undang 4 wartawan dari Dairi untuk  meliput acara ini, kata legislator berlatar belakang pengacara ini.

Seorang peneliti yang hadir pada acara tersebut  berpendapat, pengenalan latar belakang pendidikan dan  jam terbang ke luar negeri tidak mempengaruhi simpati hadirin. Toh yang hadir di ruangan adalah orang-orang hebat. Mau gelar profesor dan pejabat, sudah jamak dilahirkan dari senra kopi ini. Beberapa diantaranya juga berposisi strategis hingga menyandang pangkat jenderal.  Untuk ukuran Dairi, kuliah di perguruan tinggi ternama di Indonesia adalah hal biasa. Hingga kini,  puluhan siswa diterima tanpa testing.

Pemanfaatan waktu juga menunjukkan disiplin. Eddy tak mampu mengoptimalkan  ruang  yang disediakan.  Sementara itu, seorang perempuan dari komunitas Eddy menyebut, Eddy memang lebih pantas mendampingi Antonius.

Biar mudah menang, abang (Antonius-red) nomor satu dan Eddy nomor 2. Tak ada ceritanya menang kalau Eddy nomor satu, kata ibu rumah tangga mengenakan gaun hitam khas Pakpak saat berbincang dengan Antoni. (D01)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.