- Advertisement -

Wakil Bupati: Sekdes tak Bisa Dapat Bedah Rumah

Dairinews.com-Sidikalang

Wakil Bupati Kabupaten Dairi Sumatera Utara, Irwansyah Pasi menegaskan, Sekretaris Desa dan perangkat  pelayan masyarakat tidak bisa menjadi peserta  program bedah rumah.

“Sekdes tidak bisa dapat  program bedah rumah. Tidak bisa!” tandas Iwansyah didampingi Kabag Humas Erika Hasugian di ruang kerja di jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Rabu (15/11/2017).

- Advertisement -

Orang nomor 2 di jajaran daerah otonom ini mengatakan,  tugas pemerintah termasuk pemerintah desa adalah melayani rakyat.  Mereka sudah punya penghasilan bulanan.  Kalau sampai  Sekdes turut menjadi penikmat,  Irwansyah  berpendapat, mentalitas patut  dipertanyakan.

Irwansyah Pasi

“Saya tidak setuju itu! Tidak layaklah ikut menerima bedah rumah” ujarnya.  Seorang Sekdes sudah punya gaji bulanan. Kalau ditambah  gaji istri sebagai tenaga medis, sudah berapa itu? Bedah rumah dialokasikan buat keluarga pra sejahtera. Itu ada aturan. Ditanya apakah akan ada sanski kepada oknum tersebut, Irwansyah mengatakan, akan terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap Sekdes Parbuluan IV, Jasiden Saragih. Ditambahkan,  janda  miskin Bungaria Nainggolan  ditarget memperoleh sentuhan tahun 2018.

Sebelumnya,  Sekretaris Desa Parbuluan IV, Jasiden Saragih membenarkan, dirinya adalah peserta progra bedah rumah.  Kediaman hasil rehabilitasi di dusun 4   tidak ditempati. Dia tinggal di rumah orang tua di dusun 1.  Jasisen merasa, bukan rumah tangga miskin. Penghasilan sebagai Sekdes Rp1,6 juta dan istri selaku honor di Puskesmas Rp1,8 juta per bulan.

Diakui, bedah rumah juga diterima seorang pendeta. Penginjil itu tinggal di rumah dinas sedang  rumah rehab tidak dihuni sebelumnya.

Sementara itu, janda ‘na pogos jong’ Bungaria Nainggolan  (55) tinggal di gubuk derita tanpa lantai semen beratap seng  karatan berukuran 2 x 3 meter tak kebagian.  Jasiden  menerangkan, perenpuan renta itu tidak disertakan lantaran tak ada surat kepemilihan.

Bungaria menuturkan, sudah 30 tahun berdiam  di  gubuk di tepi jalan raya tersebut. Hunian itu tanpa kamar mandi dan tanpa sekat. Tikar yang dipakai sebagai alas tidur langsung ditaruh di atas tanah.  Kala hujan, dia sering kena tetesan lantaran atap bocor.  Dia memastikan, tak pernah meeasakan  nikmatnya terang listrik. Untuk mencari nafkah, dia bekerja ‘par ari-ari (buruh tani -red)’ dengan  upah Rp50 ribu per hari. Dia menahan terik dan hujan 2 sampai 3 kali seminggu.

Pun begitu perih, Bungaria tak mendapatkan raskin, kartu BPJS  dan keringanan lainnya.  Kalau sakit  berobat dan bayar ke bidan. Di  rumah berdinding kayu lapuk itu, ia berteduh bersama putranya Natap Siringo-ringo (23). Sang suami, Allen Siringo-ringo  telah dipanggil  Tuhan belasan tahun lalu. (D01)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.