- Advertisement -

Johnny Sitohang ‘Tidak Benar Saya Dikepung Masyarakat Silima Pungga-Pungga’

Dairinews.co-Sidikalang

Ketua DPD II Golkar Dairi Sumatera Utara, Johnny Sitohang menegaskan, tidak benar saya dikepung masyarakat Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kamis (21/2/2018). Itu berita bohong. Demikian ditegaskan Johnny Sitohang kepada sejumlah wartawan, Jumat (22/6/2018) di Sidikalang.

Iklancovid

Johnny Sitohang mengatakan, benar saya semalam (Kamis-red) berada di Kecamatan Silima Pungga. Saya kesana dalam rangka roadshow kepada pengurus Desa dan Kecamatan partai Golkar.

Sitohang mengungkapkan, kapasitasnya disana sebagai Ketua DPD II Golkar. Saya berkunjung kerumah Ketua Golkar Desa dan tidak ada mengumpul-gumpulkan masyarakat seperti berita beredar di media sosial (medsos), jelasnya.

Kunjungan saya fokus kepada pengurus partai Golkar dalam rangka mengingatkan mereka supaya mengawasi praktek politik uang jelang pemilihan Bupati/Wakil Bupati pada Pilkada serentak 27 Juni 2018 ini. Tetapi, lanjutnya, dalam kunjungan itu saya disambut warga Silima Pungga-Pungga berarti mereka sangat menyangi saya, apa itu salah?.

Johnny Sitohang menandaskan, tidak benar saya dikepung dan dicegat dijalan. Tidak benar juga saya membagi-bagikan uang kepada masyarakat sebagai upaya pemenangan pasangan nomor urut 1 Depriwanto Sitohang-Azhar Bintang diusung koalisi partai Golkar-PAN.

Sitohang menepis semua berita bohong (hoaks) melalui medsos. Johnny Sitohang mengajak semua lapisan masyarakat tidak cepat pesrcaya terhadap berita bohong (Hoaks) karena akan dapat merusak makna pesta demokrasi (Pemilu) langsung umum bebas rahasia (Luber).

Ditambahkan Johnny Sitohang, selain dikabarkan dikepung masyarakat Silima Pungga-Pungga karena dituding membagi-bagikan uang. Tiga hari lalu saya juga di issukan sudah sakit stroke. Padahal saya sehat-sehat saja seperti disaksikan wartawan, ucapnya.

Ketua DPD II Golkar yang juga Bupati Dairi itu mendorong pihak Kepolisian memberikan atensi serius terhadap sekelompok orang sengaja menebar berita bohong (hoaks) melalui medsos untuk mengusik ketenangan masyarakat yang dapat memicu keributan jelang pelaksanaan pesta demokrasi mendatang, tandasnya (D03).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.