- Advertisement -

Sedih Kali Bah, Keluarga Korban Banjir Bandang Tak Dapat Uang Duka

Dairinews.co-Parongil

5 dari 7 korban hilang tersapu banjir bandang di Desa Longkotan dan Bongkaras Kecamatan Silima Pungga-Pungga  Kabupaten Dairi Sumatera Utara telah ditemukan. Kelimanya diketahui meninggal dunia dan telah dikebumikan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Bahagia Ginting, Kamis (27/12/2018) mengatakan, keluarga tidak memperoleh uang duka dari pemerintah. Sebab, tidak ada regulasi tentang hal tersebut.

Pemerintah, kata dia, mengalokasikan bantuan untuk rumah rusak. Dalam peristiwa itu, 12 kediaman terdata mengalami kerusakan. Sehubungan itu, keluarga memperoleh uluran diantaranya selimut, sepatu dan kaos kaki.

Diakui, musibah itu juga menimbulkan kerusakan lahan pertanian. Hingga ini pemilik lahan belum diberi bantuan. Pertimbangannya, mereka masih bisa hidup

Dalam waktu dekat iventarisasi kerusakan lahan dan asset pemerintah segera dilakukan. Selanjutnya, dikoordinasi dengan puhak terkait termasuk pemerintah propinsi untuk mencarikan solusi. Kalau misalnya irigasi itu kewenangan kabupaten, tentu rehabilitasi dilaksanakan lewat dana APBD.

Jembatan menghubungkan Desa LaePangaroan-Lae Panginuman Kecamatan Siima Pungga-Pungga putus

Diutarakan bencana itu mengakibatkan gangguan di 10 kelurahan/desa. Diantaranya Kelurahan Parongil, Tungtung Batu, Bongkaras, Longkotan, Siboras Siratah, Bagal Gajah,  Lae Panginuman, Sumbari dan Lae Pangaroan. Kerusakan ada beberapa macam termasuk putusnya distribusi air bersih.

Alboin Sitorus (48)  penyedia saprodi di Desa Lae Panginuman mengatakan, Desa Lae Panginuman dan  Lae Pangaroan merupakan sentra beras untuk wilayah  Silima Pungga-Pungga. Akibat dihantam banjir, irigasi Maduma, Dos Roha dan Gabema hancur. Swasembada pangan pun terancam. Kalau bukan karena musim durian dan manggis, mungkin penduduk tak punya uang lagi.

Dia menduga, musibah itu terkait erat perusahan hutan 15 atau 20 tahun lalu.  Ekses penebangan kayu dirasakan sekarang dimana pebukitan telah gundul.  Eksosistem sudah hancur. Menurutnya, gelombang lumpur dalam volume tak erhingga dan kencang mematahkan   jembatan penghubung Desa Lae Pangaroan-Lae Panginuman. Lintasan itu terputus. Masyarakat beralih mempergunakan  jalur  alternatif.

Sepegetahuannya, hingga kini belum ada bantuan pemerintah. Padahal, lahan sawah dipastikan gagal panen. Untuk penanggulangan penyediaan air bersih, masyarakat mengumpulan  uang Rp100 ribu buat belanja pipa. Air bersih disana adalah bantuan pemerintah Sumut 3 tahun silam.

Malinton Sitorus (53) penduduk  Desa Sumbari mengutarakan, peristiwa  itu berakibat  padi sawah gagal panen. Padahal, tanaman sudah fase pengisian  bulir.  Selain mengancam memporak-porandakan lahan pertanian, jembatan menghubungkan Dusun Pala Gajah-Rumah Haji ikut  terputus. Mereka terpaksa berkeliling sejauh 4 kilometer mengelilingi  Desa Lae Panginuman.

Dijelaskan, permukaan  sawah dan ladang tertutup total oleh batu, lumpur dan batang kayu. Tidak mungkin dipuluhkan dalam waktu singkat. Perekonomian masyarakat dipastikan merosot.

Bupati, Johnny Sitohang telah berkunjung ke area bencana, baru-baru ini. Namun, pejabat itu tidak menemui keluarga korban duka. Ketika meluncur, dikabarkan membunyikan sirene, tetapi pulang, pengeras suara itu divacumkan.

“Tidak ada datang menyapa atau menyampaikan ucapan duka ke rumah kami” kata Martua Tumanggor, ayah dari Kino Tumanggor, pria yang sampai sekarang belum diketahui nasibnya.

Anggota DPR RI fraksi PDI Perjuangan Junimart Girsang, mantan Bupati Dairi MP Tumanggor dan putranya  Bernhard Tumanggor serta bupati terpilih, Eddy Kelleng Ate Berutu menyampaikan turut belasungkawa kepada keluarga mendiang. Intelektual itu juga mengulurkan bantuan diantaranya  air bersih dan bahan pangan. (D01)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.