- Advertisement -

Organisasi Perempuan Tolak Perusahaan Tambang dan Illegal Logging Dikawasan Hutan Parongil

Dairinews.co-Parongil

Dua organisasi perempuan (OP) yakni OP Sion Desa Bonian serta OP Marsitoguan Desa Lae Panginuman Kecamatan Silima Pungga-Pungga Kabupaten Dairi Sumatera Utara menolak keras pengrusakan hutan (illegal logging) serta perusahaan tambang ada dikawasan hutan lindung Parongil.

Iklancovid

Karena mereka yakini, kedua aktivitas itu sebagai pemicu terjadinya bencana alam banjir bandang pada 18 Desember 2018 lalu. Dimana akibat peristiwa itu, 7 orang warga dari 2 Desa yakni Desa Bongkaras dan Longkotan meninggal tersapu banjir bandang.

Pernyataan sikap penolakan illegal logging dan kehadiran perusahaan tambang mereka sampaikan saat menggelar doa bersama dilokasi banjir bandang tepatnya diareal persawahan di Desa Bonian, Jumat (25/1/2019).

Doa bersama memohon kepada Tuhan supaya tidak terulang kembali bencana alam diwilayah mereka. Bencana itu menyebabkan ribuan warga kehilangan mata pencaharian karena lahan pertanian mereka porakporanda tersapu banjir bandang dimaksud.

Hadir pemerhati petani juga Wakil Ketua DPRD Dairi Benpa Hisar Nababan serta 4 pendamping kedua organisasi itu dari yayasan diakonia Pelangi Kasih yakni Diakones Anward Nababan, Sarah Naibaho, Serly Siahaan serta Monika Siregar.

Diakones Monika Siregar bersama Ketua OP Sion Desa Bonian, Saudur boru Sitorus gelar oppung Gideon serta Ketua OP Marsitoguan Desa Lae Pangimunan, Ratna boru

Makan bersama dilokasi bencana banjir bandang gunakan daun pisang

Sinurat dan Ketua Formatpetalihi, St Saut Sitorus menjelaskan, kegiatan yang mereka lakukan dilokasi bencana banjir bandang adalah doa bersama meminta kepada Tuhan supaya tidak terjadi lagi bencana serupa dikemudian hari.

Dengan mengenakan ulos sebagai penutup kepala. Sekitar 30 orang ibu-ibu dari 2 OP tersebut serta Benpa Nababan makan bersama diatas tadahan daun pisang dan menggunakan tempurung tempat minum.

Kepada wartawan, Saudur mengatakan, apa yang mereka lakukan hendak mengingat serta melestarikan warisan leluhur serta refleksi menyikapi bencana terjadi beberapa waktu lalu. Saudur dan Ratna mengajak para kaum ibu untuk sama-sama peka terhadap orang luar hendak merusak hutan.

Begitu juga penggunaan pengolahan lahan pertanian agar mengurangi bahan kimia dan alat tehnologi. Mari kita olah lahan dengan menggunakan cangkul, jangan dengan bahan racun ataupun  mesin babat. Mari kita kembali bertani selaras alam, sebut Saudur memotivasi.

Kami dan cucu kami kelak tidak mau jadi korban seperti terjadi beberapa waktu lalu menelan korban jiwa dan merusak lahan pertanian. Sejak jadi perkampungan Desa Bonian tahun 1946, baru ini kejadian seperti ini. Sehingga kami tidak mau lagi terulang peristiwa serupa dikemudian hari, sebutnya.

Saudur menegaskan, Pemerintah diharapkan mau mendengar aspirasi mereka agar mencabut ijin perusahaan tambang dilokasi Parongil. Kami tidak makan dari tambang, kami hanya makan lewat pertanian.

Menurut mereka, terjadinya banjir bandang tidak terlepas dari ekplorasi dilakukan sebuah perusahaan tambang beberapa tahun lalu diwilayah Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Informasi kami peroleh lanjut Saudur, ada 300 titik pengeboran dilakukan perusahaan tambang dimaksud.

Sehingga kami menduga, sealin aktivitas illegal logging, penyebab banjir bandang juga akibat kehadiran perusahaan tambang timah, ujar Saudur. Kedua organisi perempuan menolak keras penebangan kayu serta kehadiran tambang timah diwilayah kecamatan Silima Pungga-Pungga.

Benpa Nababan mengapresiasi perjuangan kaum perempuan diwilayah Parongil. Menurut Benpa, yang tidak setuju dengan pergerakan dilakukan kaum hanya perempuan itu adalah para pemodal yang selama ini sengaja mengambil keuntungan dengan merusak hutan, oknum Polisi serta TNI yang terlibat melakukan pengrusakan hutan dimaksud.

Benpa menyarankan, untuk menguatkan perjuangan kaum ibu-ibu itu. Mereka harus mengajukan kepada Kepala Desa untuk pembuatan Peraturan Desa (Perdes) pelarangan penebangan hutan. Benpa mengatakan, perjuangan ini tidak boleh terhenti.

Benpa memberikan apresiasi kepada yayasan Pelangi Kasih yang dengan tulus memberikan pendampingan kepada warga Kecamatan Silima Pungga dalam pelestarian lingkungan. Kita semua harus sepakat dengan alasan apapun itu tidak boleh seorangpun melakukan penebangan kayu. Dengan begitu bencana serupa akan terhindar dari Tanah Dairi ini (D03).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.