- Advertisement -

Bawa Obor, Anak Anak Lae Haporas Berangkat Sekolah Jam 5 Pagi ke Lae Markelang

Dairinews.co-Sopobutar

Camat Siempat Nempu Hilir Kabupaten Dairi Sumatera Uyara, Roy Tumanggor  mengatakan, menaruh perhatian khusus bagi kemajuan masyarakat di Desa Lae Haporas. Dia berusaha menyuarakan kepentingan rakyat kepada pihak terkait.

Salah satu  atensi dimaksud adalah urgensi pembangunan sekolah dasar (SD).

- Advertisement -

“Sampai sekarang, belum ada SD di Lae Haporas” kata Roy didampingi Sekretaris, Jangihut Nadeak di ruang kerja di Desa Spobutar Rabu (17/07/2019).

Anak-anak, kata Roy, menimba ilmu ke desa terdekat. Sebagian memilih ke Desa Lae Maromas berjarak 8 kilometer dan lainnya ke Desa Lae Markelang berjarak 7  kilometer. Lantaran jauh, generasi muda itu harus berangkat lebih dini.

Biasanya  meninggalkan rumah pukul 05.00 Wib sembari bawa obor buat penerangan di jalan. Pelajar berjalan rame-rame. Kondisi jalan sebagian berupa  batu padas dan ruas tertentu terdiri dari tanah. Tidak ada angkot, kata Roy.

ASN ini membenarkan, kerap menerima ucapan pedas masyarakat lantaran belum merasakan  arti kemerdekaan.

BAWA  BONTOT

Sangkot Simbolon (42) penduduk Desa Lae Markelang membenarkan derita  pelajar di Desa Lae Haporas. Sepengetahuannya, sebanyak 35 murid jalan kaki ke kampungnya  setiap hari. Berangkat pukul lima agar bisa tiba di sekolah tepat waktu. Sebagian belajar ke Desa Logan dengan jarak tempuh serupa.

Kasihan sekali. Pelajar harus bawa bekal atau bontot untuk menu siang. Kalau tidak, darimana tenaga mau pulang? Dan  tentunya,  nyampe di rumah juga sidah kesorean. Terkadang, entah makan apalah di tengah jalan.

Diutarakan,  jaringan  listrik belum seperti di perkotaan. Masih sambung dari tiang ke tiang darurat. Jadi,  sering padam.  Dia berharap, pemerintah daerah  memberi perhatian demi kemakmuran dan peningkatan sumber daya manusia.

Kalau semangat sekolah, jangan ditanya. Orang tua dan anak-anak gigih. Etos kerja juga tinggi. Hasil pertanian  melimpah. Diantaranya durian, jagung, kakao, dan cabe. Namun,  petani tak punya  posisi tawar lantaran  buruknya infrastruktur. Sehubungan itu, pemerintah diminta bersikap bijak dan adil.

Warga  Desa Logan, Sinar Pagi, Lae Markelang, Lae Haporas dan sekitarnya memperoleh kebutuhan sehari-hari dari Pasar Pardomuan yang dibuka setiap hari Senin.

“Sahali saminggu do maronan. Ipe molo adong hepeng” kata Simbolon. (D01)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.