- Advertisement -

Diminta Tunda Menanam, Petani Kesal

Dampak Kelangkaan Pupuk Subsidi

Dairinews.co-sidikalang

“Bagi petani yang tanamannya sudah mendesak untuk  di pupuk, bisa menggunakan pupuk non subsidi sehingga proses pertumbuhan tanaman tidak terganggu”. “bagi petani yang akan bertanam khusus komoditi padi dan jagung diharapkan untuk menunda dulu pertanamannya sampai penambahan alokasi turun, akan tetapi jika sudah sangat mendesak sekali, bisa menggunakan pupuk non subsidi”

Demikian kutipan pernyataan Kepala Dinas Pertanian, Herlina Tobing dalam press release yang disampaikan Plt Kabag Humas dan Protokoler setda Kabupaten Dairi, Palti Pandiangan,  Senin (16/9/2019), menyikapi kelangkaan pupuk bersubsidi.

Disebutkan, kelangkaan  terjadi karena alokasi telah habis pertanggal 2 September 2019. Hal itu didasari  laporan distributor. Selain itu, alokasi yang diterima setiap tahunnya menurun dan jauh lebih rendah dari usulan kebutuhan. Untuk tahun 2019 alokasi berkurang dibanding tahun 2018 lalu.

Jumlah usulan untuk 5 jenis pupuk subsidi tahun 2018 sebesar 89.235 ton,  namun alokasi  hanya 37.217,  kemudian usulan tahun 2019 sebesar 80. 895 ton sementara alokasi hanya 16.656 ton.

Terhitung Mei 2019, Dinas Pertanian telah mengajukan penambahan alokasi ke Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, hasilnya diberikan tiga kali penambahan,  sehingga total alokasi diterima per Agustus menjadi 21. 617 ton atau 27 persen dari usulan kebutuhan.

Guna mengatasi kelangkaan, Pemkab Dairi melalui Dinas Pertanian telah mengajukan permohonan tambahan alokasi kepada Kementerian Pertanian dan Gubernur Sumatera Utara. Permohonan disampaikan melalui surat tertanggal 5 September 2019 ditandatangani Bupati.

Secara  lisan, jawaban  telah diterima, realokasi antar provinsi akan dilakukan,  namun belum dapat direalisasi karena harus menunggu penerbitan surat keputusan Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian sebagai menjadi dasar  realokasi diterbitkan.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Kadis Pertanian tentang penundaan tanam,  ketua kelompok tani Rudangta Desa Pasir Tengah Kecamatan Tanah Pinem, Bonitra Sinulingga  melalui percakapan telepon  mengungkapkan kekesalannya.

“Kalau Dinas Pertanian meminta   petani menunda tanam, maka sekalian saja mereka menunda  turun hujan” sebut Bonitra.

Diterangkan, petani didaerahnya sedang musim menanam jagung seiring datangnya hujan setelah musim kemarau sebelumnya.

Hal senada dikatakan Dohar Sihite, petani padi sawah  di Kecamatan Lae Parira. Menurutnya menunda musim tanam  merupakan kebijakan yang tidak populer. Musim sebelumnya, petani menjerit akibat hasil panen yang merosot dampak serangan hama tikus dan sekarang kembali dihadapkan dengan persoalan kelangkaan pupuk.

Menunda musim tanam sama  dengan memperpanjang masa peceklik dan memperpanjang derita petani.

“Idealnya, pemerintah mampu menjamin ketersediaan pupuk saat petani membutuhkan, bukan menyuruh menunda penanaman. Untuk anjuran penggunaan pupuk non subsidi, petani tidak perlu diajari”, ketusnya. (D02)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.