- Advertisement -

Penahanan Uang Proyek SMKN Tigabaru Diduga Terkait Fee

Dairinews-Tigabaru

Kepada Bidang Sarana dan Prasarana pada Dinas Pendidikan Kabupaten Dairi Sumatera Utara Anggara Sinurat, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Hudson Tobing dan kontraktor pembangunan Sekolah Menengeh Kejuruan Negeri (SMKN) Tigabaru Kecamatan Pegagan Hilir,  Richard Eddy   Lingga melakukan pertemuan di Bale Karina jalan 45 Sidikalang, Kamis (24/11/2016) sore. Pertemuan dimaksudkan  guna mencari jalan keluar terkait  penahanan uang proyek berkisar Rp500 juta oleh Kepala Sekolah  Hotner Situmorang.

 

Anggara menyebut, secara fisik, proyek swakelola  tahun 2016  ditangani Richard berbiaya Rp1,5 milliar dari total Rp2,8 milliar  sudah layak dibayar. Namun,  diakui, kepala sekolah agak lemah dalam hal komunikasi. Tidak ada  hubungan langsung Kepala Dinas dengan  pemborong. Kadis mengontrol kepala sekolah sedang hubungan langsung dengan  pemborong adalah kepala sekolah. Itu sudah berjalan pada pembayaran terdahulu.

 

Memang, kata Anggara, Kadis mengontrol kepala sekolah agar uang disalurkan sesuai mekanisme. Harus ada rekomendasi untuk ambil uang dari bank, apalagi nilainya besar. Tetapi kalau Kadis  ketemu langsung dengan kontraktor, tak terlalu relevan.

 

“Uang itu masih ada. Di si dope hepeng i. Di bank”,  kata  Anggara.

 

Richard menduga,  ‘pemaksaan’ kepala sekolah agar dirinya  duduk bersama dengan kepal sekolah dan Kadis diduga untuk  mengambil fee. Sampai kapanpun aku tak mau ketemu Kadis Pendidikan Rosema Silalahi.  Aku sudah tahu tipenya. Secara manusiawi, kita tahu berterima kasih. Tetapi, uang itu harus diserahkan dulu.  Jangan uang pemborong ditahan-tahan.  Tujuannya apa? Buat apa mesti jumpa?

 

Richard mengungkap, dari awal, dirinya mencurahkan banyak energi hingga pemilik tanah dan Kementerian Pendidikan mau mengalokasikan anggaran. Di tengah jalan. Dari total pagu, dirinya mendapat separuh. Biaya pematangan lahan, sertifikasi lahan dan pengeluaran lainnya ditanggung olehnya.

 

“Saya menduga, tujuannya untuk ambil fee” kata Richard. Ditambahkan,  proyek diterima langsung dari kepala sekolah ditandatangani bersama. Sistem pembayaran sesuai progress. Kalau memang tak ada apa-apanya, transfer bank saja. Semua kelar. Itu lebih transparan.

 

Horlen Situmorang dikonfirmasi via telepon selluler membenarkan, belum  membayar uang proyek. Dana itu masih dibank. Persoalannya, Richard tak mau datang untuk duduk bersama dengan dia dan Kepala Dinas Pendidikan. Kalau dia mau, hari ini juga diberi.

 

Menurut Horlen, Richard adalah tukang pada proyek itu. Par tukang hu do ibana. Unang bage ibana mangatur au.  Datung gabe tukang mangatur kepala sekolah. Makanya gedung dipakai untuk proses belajar mengajar walau tanpa serah terima kunci, tandas Horlen.

 

Dijelaskan, pembayaran harus disaksikan Kadis Pendidikan. Pengambilan uang dari bank mesti disertai rekomendasi Kadis.  Itu mekanisme. (D01)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.