- Advertisement -

Pertanggungjawaban Kepala SMAN 1 Sidikalang Patut Dicurigai

Dairinews.com-Sidikalang

Wakil Ketua DPRD Dairi Sumatera Utara, Togar Pasaribu di gedung dewan di jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Rabu (25/10/2017) mengatakan,  laporan pertanggungjawaban Kepala SMAN  1 Sidikalang terkait penggunana dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2016 patut dicurigai

“Sukar dipercaya. Kurang masuk akal jika benar membelanjakan ratusan kilogram pupuk dan sejumlah bibit tanaman” kata Togar.  Petani tahu kok berapa kebutuhan benuh jagung unggul per hektar. Umumnya 20 kilogram. Kalau sekolah belanja 20 kilogram, terus tanam dimana?   Luas lahan sekolah saja  termasuk bangunan barangkali berada di kisaran 1 hektar. Lalu, dimana lagi tanam kacang tanah, kacang panjang dan lainnya?

Legislator partai Hanura ini  menerangkan, lembaga pendidikan dimaksud bersifat umum. Bukan kejuruan semisal SMK Pertanian. Nah, kalau beli macam tanaman dan banyak pupuk,  terkesan, sekolah diarahkan ke SMK.  Sebenarnya, lebih menarik kalau anggaran difokuskan untuk penataan taman. Dan tak kalah penting, pembiayaan mesti akuntable dan transparan.

Patut dipertanyakan, bagaimana bisa Dinas Pendidikan Sumut menerima laporan pertanggungjawaban itu. Ada apa? Kalau aplikasikan sekian banyak pupuk, barangkali, tanaman bakal mati lantaran keracunan. Di sisi lain, pemakaian pestisida begitu banyak membuat produk tak layak konsumsi.

Anggota dewan, Manat Sigalingging  menyebut, sekolah ini juga mirip swasta. Apalagi dibebani uang komite dan biaya belajar sore.  Kalau memang sudah kelebihan uang, mendingan uang komite dihapus ketimbang  bicara budidaya pertanian. Nurani guru dimana?

Sebenarnya, tandas Sigalingging,  tujuan penyaluran  BOS adalah demi kelancaran proses belajar mengajar. Tetapi sepertinya, penggunaan tak punya pengaruh langsung terhadap siswa.  Diduga, dimonopoli kepala sekolah. Apa dampak budidaya jagung, kacang tanah dan kacang panjang bagi siswa? Inikah bukan SMK Pertanian?

Sebelumnya,  Kepala SMAN 1 Sidikalang Anna Lowisa Sianturi didampingi Wakil Kepala Sekolah Bernardus Munthe mengatakan, pertanggungjawaban dana BOS sesuai rancangan anggaran biaya. Dalam RAB, memang tertera kebutuhan bibit jagung sebanyak 20 kilogram, nanun yang dibeli sebanyak 15 kilogram. Bibit ditanam di belakang ruang kelas. Hasil panen menjadi kas siswa.

“Bukan fiktif” kata Anna. Dia menambahkan, juga membeli bibit lain diantaranya kacang tanah, kacang panjang. Hal itu merupakan kegiatan Adiwiyata guna melahirkan semangat cinta lingkungan.

Informasi diperoleh Dairinews.com menyebut, sekolah ini  membeli  pupuk TSP sebanyak 675 kilogram (Rp6.075.000), urea tabur  525 kilogram (Rp4.725.000), pupuk kandang 775 kilogram (Rp1.550.000), NPK 480 kilogram (Rp6.000.000), KCl 480 kilogram (Rp5.136.000).

Selanjutnya, kuantita  benih   kacang panjang 10 kilogram,  kangkung darat 20 kilogram, kacang tanah 20 kilogram, bayam hijau 28 gram, terong 2 gram, cabe hibrida 51 gram.

Seterusnya, insektisida 9 liter (Rp4.257.000),  fungisida 16 kilogram (Rp5.648.000), dan herbisida 8 liter (Rp1.088.000). Seorang guru mengungkap, sepengetahuannya, sekolah tidak pernah membeli kompos. Pelajarlah disuruh membawa. (D01)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.