- Advertisement -

Harga Kopi Arabica Rp35 Ribu Per Kilo

Dairinews.co-Sidikalang

            Pasar kopi Arabica kian prospek. Harga beli di tingkat pedagang pengumpul di Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara Rp35 ribu per kilogram, Sabtu (31/03/2018).

            Untuk mutu  bagus, dibeli seharga Rp35 ribu per kilo” kata Hamonangan Hutagalung (53) pengusaha Galung Kopi di bilangan Simpang Empat,   jalan Jalan Sisingamangaraja. Bila kurang baik, semisal punya cacat agak turun di bilangan Rp31 atau 32 ribu.

            Hutagalung menerangkan,  kondisi mantap  tersebut mulai bertahan sejak, Kamis (29/03/2018).  Sementara pekan sebelumnya , juga sudah berada di atas Rp30 ribu. Diutarakan, angka itu merupakan  market  terbaik sepanjang sejarah  perkopian di Indonesia.

            Diterangkan, perkembangan bisnis cafe di berbagai kota di belahan dunia mendorong laju permintaan meningkat.  Mereka mengekspor komoditas unggulan itu  ke  Jepang, Amerika dan  Eropah setelah diproses di Jalan Bintang Terang Binjai Kilometer 13,8  oleh  pengusaha Asun.

            Pihaknya menampung rata-rata 5 ton per minggu khusus Arabica. Panenan itu berasal dari Dairi dan Pakpak Bharat. Sebenarnya, panenan bisa ditingkatkan bila pemerintah serius melakukan  penyuluhan. Tidak dapat dipungkiri, pemupukan, pemangkasan dan penyediaan pelindung adalah langkah penting dalam budidaya.

            Sementara itu, kata Hutagalung, kopi Robusta agak terpuruk. Harga saat ini bertahan di bilangan Rp26 ribu per kilogram. Memang, Robusta adalah perintis kopi Sidikalang hingga memiliki branded. Menyusul kehadiran Arabica, pasar Robusts kian tertinggal. Aroma dan rasa Arabica jauh lebih berkesan.

            Tombang Sihite petani beralamat di  Desa Kentara Kecamatan Lae Parira mengatakan, lonjakan harga belakangan ini memotivasi masyarakat turun  ke ladang. Dia berharap, pasar tetap stabil agar warga gigih berusaha.

Wakil Ketua DPRD, Benpa Hisar Nababan yang juga penggiat kopi menyebut, pemerintah perlu menggelorakan gerakan sejuta kopi. Pengadaan dan penyaluran bibit kopi unggul harus dilaksanakan.

 Dengan demikian, era keemasan Kopi Sidikalang bisa diraih kembali. Belakangan ini, masyarakat meninggalkan pertanaman jeruk manis lantaran terbelenggu hama lalat buah. Dairi adalah alamnya kopi. (D01)

           

           

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.