- Advertisement -

Desi Pintubatu Yatim Piatu Juara Sekolah Tak Dapat KIP di Silahisabungan

# Paling Suka Matematika

Dairinews.co-Sidikalang

Desi Afianti Pintubatu (14) pelajar kelas 9 SMPN 1 Silahisabungan Kabupaten Dairi Sumatera Utara belum  pernah merasakan bantuan pemerintah sejak sekolah. Padahal, dia selalu menyandang gelar juara di kelas sejak bangku kelas 1 SD.  Untuk keseluruhan level, minimal meraih   gelar juara 3 umum.

“Dia cucuku. Status anak yatim piatu. Ayahnya, Alisdon Pintubatu  wafat saat usia Desi 1 tahun dan ibunya dan hingga kini tak diketahui keberadaannya” kata Konem Mandalahi (74) beralamat di Kompleks Tanah Lapang Desa Silalahi 2 Kecamatan Silahisabungan, Jumat (20/3/2020).

Mulai kelas 1 SD sampai sekarang, selalu juara kelas 1 di ruangan, tapi tak pernah dapat bantuan. Padahal, jelas miskin. Tak punya ayah dan ibu, ujar  boru Mandalahi sembari menenun ulos di kakilima rumah.

Boru Mandalahi menyebut, cucunya menjadi tanggungan menantu,  Holong Simarmata (45) dan putrinya Risma boru Pintubatu menyusul kesulitan ekonomi. Penghasilan bertenun tidak seberapa. 1  helai ulos dikerjakan selama 1 minggu sedang harga jual Rp250 ribu.

Holong membenarkan, memperlakukan keponakan seperti anak sendiri.  Kebutuhan hidup diperoleh melalui usaha warung kopi.

Walau cerdas,  Desi belum pernah menerima kucuran bantuan sosial. Ironisnya, malah pernah diminta memberi uang lantaran juara. Itu kejadian saat di bangku SD.

Berbagai usaha sudah dilakukan. Namun hingga kini, bansos tak terealisasi. Dia menduga, hak tersebut ditekong oknum tertentu.

INGIN KULIAH

Diutarakan, belum bisa dipastikan ke SMA mana melanjut. Semua tergantung dana.  Holong masih menjalani perawatan menyusul serangan ‘stroke’ belum lama ini.

Desi membenarkan, selalu menggenggam juara 1 di setiap tingkatan. Dia ingin kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) lalu menjadi pengusaha. Matematika dan bahasa Inggris merupakan favorit.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial, Tiarmauli Siahaan berpendapat,  anak yatim piatu patut  masuk dalam kategori miskin. Apalagi, yang bersangkutan merupakan tanggungan famili.

Keluarga bisa disertakan dalam Program Keluarga Harapan (PKH).  Sayangnya, belum ada  kegiatan PKH ditalangi APBD.

Seyogianya, kepala sekolah bijak dalam menetapkan siswa penerima KIP.  Diberi kepada pelajar yang lebih prioritas. (D01)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.